Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juli 2012

Liburan kenaikan kelas kini telah berakhir. Besok ak akan kembali ke asrama dan kembali meneruskan kehidupanku sebagai pelajar yang sesungguhnya. belajar, belajar, dan terus belajaaarr !
Selama liburan begitu banyak hal yang ak temui..
kali ini ak akan menceritakan perjalanan singkatku ke Bener Meriah. 
Bener Meriah itu sendiri adalah sebuah kabupaten pemekaran dari Aceh Tengah. Dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negri sendiri pada tanggal 7 Januari 2004. 

untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di http://acehpedia.org/Kabupaten_Bener_Meriah

karena ak sendiri tak tahu banyak mengenai Bener Meriah. Begitu sampai disana suhu nya begitu dingin, mungkin kurang dari 20 derajat celcius (pada pukul 04.00-07.00 WIB)
Memang Bener Meriah masih jauh kalah bagusnya dibanding tempat-tempat wisata lainnya di Aceh.
but, I'm so excited.

di gunung Telong. Gila, dingiiiiiiiin sekaliiii,,
 ini pemandangan di sekitar gunung telong namun kalau ak tak salah yaa..



Padi khas Bener Meriah yang tingginya sampai sepinggang orang dewasa. dan padi ini begitu istimewa karena panennya membutuhkan waktu 6-8 bulan. sementara rata-rata padi yang banyak dipasaran aceh panennya 2-4bulan yang paling lamanya. 


Sabtu, 09 Juni 2012


SAYA BUKAN PENGEMIS (Belajar dengan Anak Kecil Penjual Kue)

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan.

Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!" "Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya.

Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang." Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."



Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"

Senin, 07 Mei 2012

tanpa aku sadari aku terus berjalan, melewati likuk-likuk kehidupan. memainkan peranku, menjalankan naskah cerita yang tertulis jauh sebelum ku terlahir. sudah berulang kali berbagai cerita ku tuliskan dalam lembaran - lembaran buku kenanganku. kini aku dapat emnyadari lembaran-lembaran kertas putih itu lah sahabatku, menemaniku, menggerakkan tanganku, menyatukan pikiran dan susunan kata-kata yang ku tulis. hanya dia yang tau semua masalahku, semua masalah yang ku alami, dia juga tau semua rahasia-rahasia yang ku muliki. yakinku, aku telah mengahbiskan ratusan pohon demi kertas-kertas yang menemaniku sejak ku ketahui huruf-huruf, gambar-gambar, serta beberapa tuangan isi kepalaku. kini, aku disini menanti kisahku selanjutnya...
melewati berbagi keadaan, sampai di titik akhirku terjatuh dan hampir tak mampu bangun lagi. ya, tingkat semangat setiap orang berbeda-beda..saat ini aku sedang berada dalam ke GALAUan, kata mereka. tapi aku merasa ini situasi yang lebih mengerikan lagi. aku benci mengapa semakin sewasa aku merasa hidup ini semakin susah, bahkan untuk tersenyum saja aku harus butuh alasan. karena kini senuman itu memiliki banyak arti , tak seperti dulu yang mengatakan senyuman itu adalah ibadah, kini malah mendatangkan musibah?. kau tahu mengapa? menurutku kau akan tahu sendiri. aku merasa dunia ini seperti cerita yang sebenarnya sang penulis pun tak tahu lagiharus menulis apa.sehingga hidupku mengambang di berbagai peristiwa aneh. namun, hendak apa dikata, aku juga bosan mengeluh, tak ada yang aku dapat dari keluhan itu semua, malah aku merasa seperti manusia bodoh, idiot, dan tak tahu malu. apa aku sanggup menerima sandangan ini? TIDAK!