Tampilkan postingan dengan label Cerpen-Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen-Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012


 MD oh MD

Aku punya temen, namanya Maia Denia yang disingkat menjadi MD. dia adalah anak yang paling narsis di kelasku. Selain narsis, dia juga lebay. MD merupakan Ungu Cliquers yang maniak! ia punya semua accesories Ungu mulai gelang,kaos,kalung,majalah,gelas, dan kalau ada gosip atau berita seputar ungu yang terbaru maka aku dan teman-teman lainnya tak perlu bersusah payah membuka google atau membeli majalah, karena sudah ada MD yang siap dengan bahan pembicaraannya. Namun UNGU bukan yang utama, MD punya seseorang yang bisa membuatnya gila. yaitu Arloncy Miraldi, atau kerap disebut Oncy, pemain gitar Ungu. Ia begitu cinta mati pada Oncy. Saat ku tanya mengapa Oncy begitu berarti, ia menjawab dengan mata yang berbinar-binar.
"Put, Oncy itu belahan hatiku. Kami telah diciptakan bersama, kelak suatu saat nanti ia akan kemari menjemputku, dan melamarku. Oncy CALON SUAMIKU!", ucapnya bagiku bagai gadis yang membacakan puisi pengantar tidur.

Selasa, 15 Mei 2012



“Kakak, cepetaaann. Udah mau azan zuhur Kak”, panggil Anggi, adik perempuanku dengan setengah berteriak. Aku mempercepat langkahku agar menyamai langkahnya. Biasanya aku dan Anggi pulang bersepeda, tapi hari ini sepeda kami dipakai bapak untuk berjualan sayur. Dengan berlari-lari kecil, akhirnya aku berhasil menyamai langkahnya. Ku lihat wajahnya begitu kusut, “Anggi kenapa? Capek ya? Yaudah sini kakak gendong”, kataku seraya mengangkat tubuhnya yang mungil. Anggi mengelak “Bukan kak, tapi..”, ia menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak. “Allahuakbar..Allahuakbar”, Saat ia hendak berbicara terdengar suara azan berkumandang. Kami pun segera berlari pulang ke rumah agar tidak ketinggalan shalat berjamaah.
“Ibu, Bapak, seminggu lagi kan Anggi ulang tahun. Anggi boleh nggak minta sesuatu”, kata Anggi selesai shalat berjamaah. Orang tuaku tersenyum kecil, tampak raut khawatir di dalamnya. “Anggi mau minta apa sayang?”, tanya Ibuku sambil membelai rambut panjangnya. “Sepatu baru Bu, sepatu yang warnanya merah muda. Sekarang kan Anggi udah kelas 4”, jawab Anggi, lalu memandang sekilas sepatu lusuhnya di rak sepatu. “Sepatu?”, tanya Bapakku lagi. Anggi mengangguk. Setelah itu aku segera masuk ke dalam kamarku,  Aku duduk di atas ranjang buluk yang tebalnya sekitar 5cm. “Kakaaaaaaak..”, Anggi masuk tiba-tiba memelukku. Ia menangis, “Ibu dan Bapak bilang, Anggi dibeliin sepatu kalau udah masuk SMP kak. Kakak tau kan sepatu Anggi udah jelek terus rusak lagi. Anggi mau sepatu baru kak, yang warnanya merah muda...”, ujar Anggi di sela isak tangisnya. “Sssttt.. udah jangan nagis lagi. Anggi tidur aja ya, nanti matanya bengkak loh?”, kataku membelai rambutnya. Dalam beberapa menit, Anggi berhasil tidur dalam pangkuanku. Aku memandangnya dengan sedih, aku tahu orang tuaku memang tak cukup mampu untuk membeli sepatu baru untuk Anggi. Apalagi akhir-akhir ini, jualan sayur Bapak sedang menurun. Aku memutar otakku, apa yang bisa seorang anak SMA lakukan agar bisa membelikan adiknya sepatu baru.
             Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya pada Deva sahabat karibku. Deva mendengar cerita ku dengan seksama.“Bagaimana kalau kita cari kerja sambilan?”, Kata Deva kemudian, begitu aku menyudahi ceritaku. “Kerja apaan Dev?”, tanyaku lagi, karena yang aku tahu mencari pekerjaan itu tidaklah mudah. “Kamu itu punya banyak bakat, kamu  bisa bermain musik, kamu bisa mendaur ulang bahan-bahan bekas menjadi kerajinan tangan yang indah, terus kamu juga bisa nulis kan?”, Deva menghentikan kalimatnya dan memandang ke arahku. Setelah aku mengangguk, ia menyambung kembali kalimatnya “Nah, itu dia. Semua bakat itu bisa digunakan untuk bekerja sambilan. Misalnya besok sampe Kamis kamu jual hasil daur ulang, Jum’at kan diadain lomba nulis puisi tuh, kamu ikut aja. Terus hari sabtu kita liat pengumuman lomba nulis puisi, minggu pagi kita pergi ke pantai katanya ada acara pertunjukkan bakat musik. Kamu yang nyanyi biar aku yang mainin gitar, kemudian hari sabtunya kita pergi ke pasar nyari sepatu buat Anggi dari hasil kerjamu selama seminggu itu. Gimana?”, jelas Deva panjang lebar. Namun ku akui, ia begitu hebat dalam beberapa menit ia telah membuat jadwal untukku selama seminggu. “Dev, kamu memang sahabat terbaikku”, aku memeluk Deva. Deva terkejut, namun ia membalas pelukanku. Deva, sahabat ku yang satu ini jauh lebih mampu dibandingku, tapi disekolah ia begitu sederhana dan sering membantu teman-temannya. Tak banyak yang tahu bahwa Deva adalah anak seorang bupati. “Kamu juga sahabat terbaikku”, ia mencubit pipiku pelan.
            Sepulang sekolah aku dan Deva segera mencari barang-barang bekas di tong sampah anorganik didalam kelas, agar tak ketahuan banyak orang. Begitu berhasil mendapatkan banyak barang seperti botol, kaleng dan kotak, kami berjalan menuju pantai  yang letaknya tak jauh dari sekolah, disana kami mengumpulkan banyak kerang, batu-batu pantai, pasir pantai, serta beberapa tanaman yang ada di pinggir pantai.

“Dev, makasih banyak ya. Aku gak tau harus gimana, agar bisa ngebalas kebaikan kamu”, kataku pada Deva begitu kami sampai dirumahnya yang mewah. 
“Sssttt.. kamu ini apa-apaan sih. Kita itu sahabat, tolong menolong itu udah jadi kewajiban. Lagian Anggi udah aku anggap kayak adik aku sendiri juga kok. Put, mampir kerumah ku yuk”,ajak Deva. 
“Kapan-kapan aja ya Dev, aku harus pulang. Aku kan belum izin sama Ibu dan Bapak”, jawabku tersenyum.
“Hmm.. Yaudah deh. Hati-hati di jalan ya”, kata Deva setelah mencium pipi kananku. Kemudian aku pun berlari menuju ke rumah. Ku letakkan semua barang-barang itu didalam kamar. “Sore ini aku harus bisa menyelesaikan daur ulang barang”, janjiku pada diri sendiri, begitu aku selesai makan siang. “Kak enggak tidur?”, tanya Anggi dengan wajah yang begitu mengantuk. Aku menggeleng “Siang ini kakak enggak tidur, Anggi tidur aja terus. Nanti sore kan harus pergi mengaji di surau”, kataku mengelus bahunya. Ketika Anggi tertidur, aku pun segera menyelesaikan janjiku. Aku membersihkan semua sampah botol,kaleng,dan kotak dan kemudian menyulap semuanya menjadi tempat pensil yang lucu, tempat tissue yang cantik, dan celengan yang unik. Aku berhasil membuat 8 celengan, 12 tempat pensil, dan 5 tempat tissue dengan berbagai corak dan warna. Aku menyimpan semua barang-barang tersebut dalam sebuah kardus yang nantinya akan ku bawa ke sekolah untuk dijual. Kemudian aku mendengar suara Ibu sedang berbicara dengan tetangga. “Besok malam, saya akan kemari mengambil kuenya. Ini uang mukanya, sisanya akan saya bayar besok malam. Terima kasih banyak Bu”, sepertinya itu suara Ibu Laila, tetanggaku yang sering mengadakan arisan dirumahnya. Ibu ku duduk di kursi goyang memegang uang dua puluh ribuan, aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aku berbaring disebelah Anggi, dalam sesaat tanpa ku sadari aku terlelap sampai tiba waktu magrib. Matahari yang tadinya terang kini telah tenggelam bahkan hampir tak kelihatan. Aku segera bernajak, keluar dari kamarku. Ku lihat Ibu, Bapak, dan Anggi sedang melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Aku segera mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah. Seusai shalat aku memandang ke arah langit, begitu banyaknya bintang di malam ini. Ku bayangkan bintang-bintang itu membentuk wajah Anggi dengan sepatu barunya. Dengan segera aku mengambil pena dan selembar kertas, menuliskan sebuah puisi.


Sepatu..
Dimanakah kan ku cari sepatu merah muda itu?
Sepatu merah muda yang diinginkan dirimu,
Memiliknya seakan menjadikan mu orang yang paling bahagia,

Sepatu merah muda,
Sesuatu yang sangat berharga untuk mu,
Yang akan menjadi alas kaki mu,
Yang membuat mu bisa berlari tanpa takut kaki mu sakit,
Tanpa takut
jahitan sepatu mu kan terbuka,

Tunggulah adikku sayang,
Kan tiba saatnya sepatu merah muda itu kan menjadi milikmu,
Kan selalu menemani setiap langkah mu,
Sabarlah duhai adikku,
Aku kan berusaha mendapatkan sepatu merah muda,
Untuk dirimu...

Kamis, 10 Mei 2012


Senin, 17 Juli 2012.
“Pa, cepetan pa. Lala udah telat nih”, aku merengek sambil menggoyang-goyang kan lengan papa yang sedang menyetir.
“Lala, papa sedang menyetir. Jangan merengek lagi, udah SMA kok juga masih juga begitu”, ujar papa dengan nada tegas. Aku tau yang telat bukan hanya aku, tapi papa juga. Ini semua memang salahku, tidak meletakkan kunci mobil pada tempatnya. Sehingga hampir 20 menit, semua orang dirumah sibuk mencari kunci mobil. Aku pun diam setelah memanyunkan bibir. Aku memilih untuk berpikir, apa yang aku lakukan jika aku sampai di sekolah. Dimana, semua mata akan tertuju padaku. Terus, yang paling ku takuti mata para senior! Apa yang akan mereka lakukan kepada ku, jika aku datang disaat semua temanku sedang dikerjai? Huh, aku benar-benar membenci hari MOS! Kemudian aku tersentak saat papa memberhentikan mobil tiba-tiba.
“Kenapa pa? Mobilnya mogok? Atau ban mobil bocor?”, tanyaku sambil berharap papa berkata “Iya”. Namun, papa berkata lain. “Bukan, Bukan, mobilnya baik-baik aja. Papa memberhentikan mobil karena sekarang kita sudah tiba di depan sekolahmu”, kata-kata papa membuatku membelakkan mataku. Rasanya aku ingin menyuruh papa mengantarku kembali ke rumah. Tapi aku merasa seperti seorang pecundang jika aku sampai melakukan itu.
“Wah, udah sampai. Cepet juga ya pa, kalau gitu Lala pergi dulu ya pa. Daaaah”, aku pun segera menuju ke gerbang sekolah setelah menyalami papa. Aku berlari-lari sekencang-kencangnya menuju gerbang sekolah barunya, SMA Kartika Bangsa. Rambutku yang dikucir dua oleh mama bergoyang-goyang mengikuti langkah kakiku. Hari ini merupakan hari pertama aku bersekolah di SMA! Dan acara MOS dimulai hari ini! lapangan sekolah sudah dipenuhi ratusan murid kelas VII yang baru saja tamat dari berbagai SMP, mereka semua sedang duduk dengan berbagai macam posisi seperti yang diperintahkan para senior. Jantungku sudah hampir copot. Keringatku menetes melewati pipiku, takut ketahuan aku pun langsung berlari bersembunyi di balik pohon palem yang paling dekat denganku. Aku yang  sedang bersembunyi bingung harus melakukan apa. Akhirnya tanpa menunggu-nunggu lagi, aku segera keluar dari persembunyian dan berlari kecil menuju lapangan. Tepat seperti dugaanku semua menatap ke arah ku! Dengan berbagai macam pandangan. Aku pura-pura tak melihat siapapun, aku pun duduk dibelakang salah seorang temanku di SMP dulu. Namanya Mita, dia sedang berjongkok memegangi kuping. Mita memandangku cemas, seharusnya ia harus mencemaskan dirinya sendiri. Kemudian salah seorang seniorku yang mirip dengan Velove Vexia, hanya saja seniorku yang cantik itu memilih wajah yang judes. dia datang menghampiriku, tangan kirinya membawa sekantong besar yang aku pun tak tahu apa isinya. Sementara tangan kanannya membawa sebuah map, menurut ku itu adalah sebuah absen. Setiap ia melangkahkan kakinya aku berharap dia akan terjatuh atau terpeleset agar semua orang mengerumuninya, dan aku akan segera kabur dari lapangan ini. Namun, harapan ku tidak terjadi. Kini jarak kami hanya selangkah, kami saling bertatapan ia menatapku dengan pandangan menantang. Sementara aku memandangnya dengan tatapan yang mengatakan “Jangan apa-apakan aku kak, Please”. Tapi ia tak bisa membaca perkataanku, itu terlihat saat ia menyuruh ku berdiri. Sebelum ia bertindak lebih jauh, aku pun langsung berdiri tepat dihapannya. Ia pun membuka absen yang dibawanya, mencari sebuah nama. Dan itu namaku!